Setiap tanggal 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan. Hari yang didedikasikan untuk mengenang, menghargai dan meneladani perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka yang tertera dalam lembaran sejarah dan dikukuhkan sebagai pahlawan, maupun mereka yang tidak tertulis namanya, namun dicatat oleh semesta jasanya.
Apa yang bisa kita teladani dari para pendahulu kita, bukan sekedar aktivitas fisik yang membuktikan keberanian dan kerelaan untuk berkorban, tetapi hal yang lebih substansiil yang menjadi fondasi sikap dan aksi kepahlawanan sepanjang sejarah, yaitu rasa keadilan.
Rasa keadilan adalah kompas batin yang membedakan antara ketundukan buta dan keberanian untuk membela yang benar. Inilah benih kepahlawanan yang tertanam dalam sanubari manusia. Tanpa rasa ini, kepatuhan kita bisa berubah menjadi fasisme, dan kesetiaan kita bisa menjelma menjadi kezaliman kolektif. Sebaliknya, dengan rasa keadilan yang terasah, setiap individu dalam ruang lingkupnya masing-masing, berpotensi menjadi pahlawan.
Sejarah membuktikan bahwa para pahlawan besar tidak lahir dari keinginan untuk dikenal, tetapi dari gejolak hati yang tak tahan melihat ketidakadilan. Mereka adalah orang-orang yang rasa keadilannya terpicu, mendorong mereka untuk bertindak melampaui kepentingan diri sendiri.
Para pahlawan kemerdekaan, mereka digerakkan oleh rasa keadilan karena penjajahan selalu menjadi ajang eksplotitasi dan pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kartini menulis surat-surat panjang bukan untuk ketenaran, melainkan karena hatinya memberontak terhadap ketidakadilan yang membungkam perempuan. Begitu pula Rohana Kudus seorang jurnalis dari Minangkabau. Ia mendirikan sekolah kerajinan dan surat kabar “Soenting Melajoe” juga berangkat dari keresahan atas keadilan yang tidak terwujud bagi perempuan di masa itu. Ki Hajar Dewantara pun berjuang melalui pendidikan karena ia tahu bahwa keadilan sosial dimulai dari kesetaraan dalam pengetahuan.
Pada akhirnya, memperingati Hari Pahlawan adalah momen untuk melakukan introspeksi seberapa peka dan berani kita menjawab panggilan rasa keadilan dalam hati kita sendiri? Dunia ini tidak hanya membutuhkan pahlawan-pahlawan besar yang mengubah peta sejarah, tetapi lebih membutuhkan jutaan pahlawan kecil yang dalam kesunyian dan konsistensinya, menegakkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, mari jadikan rasa keadilan sebagai kompas hidup kita. Ketika kita melihat bullying, jangan diam. Ketika kita menyaksikan korupsi, jangan tutup mata. Ketika kita mendapati ketimpangan, suarakan kebenaran. Itulah esensi kepahlawanan modern. Seperti lilin-lilin kecil, masing-masing dari kita bisa menjadi penerang yang mengusir kegelapan ketidakadilan. Dan ketika ribuan, jutaan lilin itu dinyalakan Bersama; mulai dari ruang kelas, kantor, hingga media sosial, sinarnya akan seterang obor yang pernah dibawa oleh para pahlawan kita di medan perang. Pada titik itulah, kita tidak hanya mengenang pahlawan, tetapi kita hidup dan bernafas sebagai pahlawan bagi zaman kita sendiri.


