Dengan menggunakan situs ini, anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat Penggunaan.
Accept
ReaksionerReaksionerReaksioner
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Daerah
    • Banten
    • Bekasi
    • Karawang
    • Jawa Barat
    • Nusantara
    DaerahShow More
    Tok! Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp 16.250/Liter Mulai 10 Juni 2026
    June 10, 2026
    Pekerjaan Perbaikan Masih Berlangsung, Pembukaan Jalan Lenteng Agung Dilakukan Bertahap Mulai Pukul 08.00 WIB
    June 2, 2026
    444 Calon Haji Karawang Diberangkatkan ke Tanah Suci
    May 2, 2026
    Miskoordinasi Pintu Air Picu Longsor Hutan Bambu, Badan Rescue NasDem Meminta Pemkot Bekasi Segera Melakukan Penangan Cepat
    February 12, 2026
    Badan Rescue NasDem Kota Bekasi Terjunkan Tim Evakuasi Bantu Warga Terdampak Banjir.
    January 23, 2026
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
    • Travel
    • Trend
    • Otomotif
  • Opini
  • Foto
Reading: Saat realita terlalu memuakkan, menepi sejenak ke alam imaji. Tapi ternyata fiksi hanya cermin dari realita.
Share
Font ResizerAa
ReaksionerReaksioner
  • Politik
  • Budaya
  • Foto
  • Entertainment
  • Ekonomi Bisnis
  • Daerah
  • Hukum
Search
  • Home
    • Home 5
  • Categories
    • Daerah
    • Entertainment
    • Foto
    • Hukum
    • Politik
    • Budaya
    • Ekonomi Bisnis
    • Kesehatan
  • Bookmarks
    • Customize Interests
    • My Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Reaksioner > Berita > Opini > Saat realita terlalu memuakkan, menepi sejenak ke alam imaji. Tapi ternyata fiksi hanya cermin dari realita.
Opini

Saat realita terlalu memuakkan, menepi sejenak ke alam imaji. Tapi ternyata fiksi hanya cermin dari realita.

Nurul Sumarheni
Last updated: June 10, 2026 10:49 AM
Nurul Sumarheni
Published: November 7, 2025
Share
SHARE

Mayat Hidup Demokrasi

Asap rokok mengepul tebal di ruang rapat berpendingin udara, membentuk kabut yang menyamarkan ekspresi wajah-wajah letih di sekeliling meja oval mahoni. Bima, anggota dewan dari daerah pemilihan yang baru saja dilanda bencana ekologis, memijat pelipisnya. Di ujung meja, Ketua Umum Partai Suluh Keadilan, partai yang mengusungnya sedang berpidato dengan intonasi yang berapi-api.

“Saudara-saudara sekalian!” suara berat itu menggema. “Kita harus ingat! Partai kita lahir dari rahim reformasi. Kita adalah suara mereka yang tak bersuara. Kita tidak akan pernah, sekali lagi saya tegaskan, tidak akan pernah mengkhianati amanat penderitaan rakyat!”

Tepuk tangan riuh membahana. Bima ikut bertepuk tangan, namun telapak tangannya terasa dingin dan hampa. Gerakannya mekanis, seperti boneka yang tali-talinya ditarik oleh sang dalang.

- Advertisement -

Pikirannya melayang pada rapat tertutup yang baru saja ia ikuti dua jam lalu. Rapat yang jauh lebih kecil, hanya dihadiri petinggi inti. Agendanya: meloloskan revisi undang-undang tata ruang yang akan melegalkan operasional tambang emas besar di kawasan lindung. Tepat di daerah pemilihan Bima.

Bencana ekologis yang baru terjadi berupa banjir bandang dan longsor, disebabkan oleh pembukaan lahan ilegal di hulu sungai oleh perusahaan yang sama. Lalu kini, partai yang di depan publik meneriakkan “Stop Eksploitasi Alam!” justru sedang mengamankan legalitas perusakan itu di balik layar.

Bima tahu alasannya. Ia melihat sendiri daftar “sumbangan” yang mengalir deras ke kas partai menjelang pemilu. Uang itu membayar iklan-iklan di televisi, yang menampilkan wajah tersenyum Ketua Umum dengan slogan “Bersama Rakyat, Jaga Bumi Pertiwi.”

“Amanat penderitaan rakyat,” Bima mengulang kalimat itu dalam hati. Ludahnya terasa pahit. Dia teringat hari pertamanya bergabung dengan partai. Sepuluh tahun lalu, dia adalah aktivis idealis yang percaya bahwa politik adalah alat untuk perubahan. Dia percaya pada manifesto partai yang menjanjikan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.

Sekarang, dia duduk di sini, di pusat kekuasaan, dan mendapati bahwa idealisme adalah barang mewah yang hanya laku dijual saat kampanye. Di dalam mesin partai, yang berlaku adalah pragmatisme buta.

- Advertisement -

“Dan Bima,” Ketua Umum tiba-tiba menoleh padanya, senyumnya lebar namun matanya sedingin es. “Anda garda terdepan kita di sana. Saya dengar ada sedikit riak-riak penolakan dari warga. Tolong amankan.”

Satu kata itu; amankan, memiliki seribu arti. Bisa berarti negosiasi, bisa berarti intimidasi, bisa berarti menyiram mereka dengan program bantuan sosial sementara agar diam, sementara tanah mereka dirampas.

Seluruh mata kini tertuju padanya. Bima merasakan dasinya mencekik leher. Ini adalah panggungnya. Dia bisa berdiri. Dia bisa membantah. Dia bisa berkata, “Pak Ketua, itu bukan riak. Itu jeritan rakyat! Itu pengkhianatan!”

- Advertisement -

Tapi dia melihat wajah-wajah di sekelilingnya. Wajah-wajah yang tahu persis apa yang terjadi. Mereka adalah rekan-rekannya, sesama kader. Mereka juga tahu aturan mainnya.

Di Partai Suluh Keadilan dan partai lainnya, ada satu aturan tak tertulis yang lebih sakral dari anggaran dasar: Loyalitas adalah segalanya. Menentang kebijakan partai di depan umum adalah bunuh diri politik. Melawan arah politik petinggi adalah penghancuran karier.

Jika dia melawan, dia akan dicopot dari jabatannya, diganti oleh kader lain yang lebih “kooperatif”. Perjuangannya akan mati bahkan sebelum dimulai. Dia akan dilabeli pembangkang, pengkhianat partai.

Pragmatisme berbisik di telinganya. Bertahanlah, Bima. Tetap di dalam sistem. Ubah pelan-pelan dari dalam. Tapi sudah sepuluh tahun dia berbisik seperti itu pada dirinya sendiri. Dan yang berubah bukan sistem, tapi dirinya.

Bima menegakkan punggungnya. Dia memasang ekspresi tenang dan penuh keyakinan. “Siap, Pak Ketua,” suaranya keluar, datar dan tanpa emosi. “Situasi di dapil saya terkendali. Akan kami sosialisasikan bahwa program ini adalah demi kemajuan ekonomi jangka panjang. Kami akan pastikan semua berjalan kondusif.”

Ketua Umum mengangguk puas. “Bagus. Ini baru kader militan!”
Rapat ditutup. Para petinggi saling bersalaman dan tertawa, menepuk punggung satu sama lain. Bima berjalan keluar dari ruangan itu, merasa mual.

Di lobi utama kantor DPP yang megah, sebuah spanduk raksasa baru saja dipasang. Foto Ketua Umum sedang memeluk seorang petani tua, dengan tulisan besar: “DEMOKRASI ADALAH MENDENGAR SUARA RAKYAT.”

Bima menatap spanduk itu. Dia melihat pantulan dirinya di lantai marmer yang mengkilap. Sosoknya gagah dalam balutan kemeja partai, tapi matanya kosong. Dia bisa berbicara, dia bisa bergerak, dia bisa bertepuk tangan. Dia adalah kader yang patuh. Dia adalah politisi yang pragmatis. Tapi jauh di dalam dirinya, di tempat di mana idealismenya pernah menyala, kini hanya ada ruang hampa yang dingin. Bima tersenyum kecil pada pantulannya. Senyum mekanis sesosok mayat hidup demokrasi.

Bekasi, 311025

You Might Also Like

Membumikan Gagasan Restorasi Indonesia: Refleksi 14 Tahun Partai NasDem
Proyek PLTSa di Kota Bekasi
Menata Ulang Formula Pembiayaan Partai Politik di Daerah
Rasa Keadilan Sebagai Esensi Kepahlawanan
Tobat Ekologis: Amanah Menjaga Bumi
TAGGED:nurul sumarheniopini
SOURCES:reaksioner.com
VIA:Nurul Sumarheni
Share This Article
Facebook Telegram Email Copy Link Print

Follow Us

Find Us on Social Media
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
Berita Terbaru
BeritaEkonomi BisnisNusantara

Tok! Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp 16.250/Liter Mulai 10 Juni 2026

Niesky
Niesky
June 10, 2026
Ini Bahaya Terlalu Lama Menatap Layar Ponsel
Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Ada Layanan Dining Car di Kereta Cepat Whoosh yang Dihadirkan KAI Services
12 Kloter Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan ke Tanah Air, Kemenhaj Tegaskan Larangan Bawa Zamzam di Koper
- Advertisement -
Ad imageAd image

Kanal Berita

  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Budaya
  • Gaya Hidup

Sekilas Reaksioner

Reaksioner adalah portal media digital yang lahir dari kebutuhan akan informasi yang cepat, tajam, dan tidak sekadar di permukaan.

Informasi

  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
© 2026 by Reaksioner. Semua Hak Cipta Dilindungi.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?